PURBALINGGA – Di balik rimbunnya vegetasi lereng Gunung Beser, Kecamatan Karangjambu, terdapat sebuah pemukiman yang seolah ditelan waktu. Dusun Cikal, yang terletak di Desa Jingkang, kini lebih dikenal masyarakat luas sebagai "Kampung Mati". Bukan karena horor, melainkan karena keheningan absolut yang menyelimuti puluhan rumah permanen yang kini tak berpenghuni.
Dusun ini menjadi saksi bisu bagaimana kekuatan alam mampu mengubah wajah sebuah peradaban hanya dalam waktu singkat.
Baca juga:
Satu Komando! Erick Thohir Tegaskan Futsal Tak Lagi Berdiri Sendiri, Segera Integrasi Penuh ke PSSILuka Lama Bencana Longsor 2015
Predikat "Kampung Mati" mulai melekat sejak tahun 2015. Kala itu, bencana tanah longsor besar mengancam keselamatan seluruh warga. Demi keamanan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga merelokasi sekitar 43 Kepala Keluarga (KK) ke tempat yang lebih aman di Dusun Jlewus.
Eksodus besar-besaran itu meninggalkan deretan rumah tembok yang masih berdiri kokoh, namun tanpa penghuni. Pintu-pintu yang tertutup rapat, halaman yang mulai ditumbuhi ilalang setinggi dada, serta sisa-sisa perabotan yang tertinggal menciptakan suasana melankolis di tengah hutan rimba.
Kisah Bapak Muhsori: Sang Penjaga Kesunyian
Meski sebagian besar warga telah pergi, Dusun Cikal tidak sepenuhnya kosong. Adalah Bapak Muhsori, salah satu dari sedikit jiwa yang memilih tetap bertahan di dusun terpencil ini. Baginya, Dusun Cikal bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tanah kelahiran yang sulit ditinggalkan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat yang tersisa harus hidup mandiri. Jangan bayangkan ada pasar atau minimarket; kabarnya, pedagang sayur keliling pun hanya berani masuk ke wilayah ini setiap dua minggu sekali, itu pun jika cuaca memungkinkan.
"Di sini sunyi, tapi bagi kami ini adalah ketenangan. Kami tetap di sini untuk menjaga kebun dan ternak yang menjadi penyambung hidup," tutur salah satu warga yang masih sering beraktivitas di Dusun Cikal.
Medan Berat yang Menantang Adrenalin
Akses menuju Dusun Cikal adalah tantangan tersendiri bagi para pecinta petualangan. Jalanan aspal yang sudah lama tergerus tanah, tanjakan curam yang mengapit tebing, serta sungai-sungai kecil tanpa jembatan harus dilalui. Saat musim hujan tiba, jalur ini menjadi medan yang sangat berbahaya karena sangat licin dan rawan longsor susulan.
Namun, bagi mereka yang berhasil mencapai lokasi, Dusun Cikal menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Air sungai yang masih sangat jernih serta udara pegunungan yang murni menjadi kompensasi atas perjalanan yang melelahkan.
Harapan di Tengah Keterpencilan
Hingga kini, Dusun Cikal tetap menjadi magnet bagi para petualang dan pembuat konten yang ingin mendokumentasikan "kehidupan yang tertunda". Meski disebut kampung mati, denyut kehidupan kecil masih ada di sana, di antara sela-sela pepohonan hutan yang terus tumbuh menutupi jejak-jejak rumah manusia.
Profil Dusun Cikal (Kampung Mati)
| Informasi Utama | Detail Keterangan |
| Lokasi | Desa Jingkang, Kec. Karangjambu, Purbalingga |
| Penyebab Relokasi | Ancaman Bencana Tanah Longsor (2015) |
| Jumlah Penduduk | Mayoritas pindah, tersisa sekitar 1-2 keluarga |
| Akses Jalan | Sangat Sulit (Hanya kendaraan roda dua tangguh/jalan kaki) |
| Karakteristik | Puluhan rumah permanen kosong di tengah hutan |