Liga 4 Jateng Memanas: Laga Persibas vs Persak di Purworejo Berakhir Ricuh, Panitia Terluka Parah

Penulis : Lucky
Editor : Redaksi Koran Pos Indonesia
Suasana mencekam di lintasan lari Stadion Sarwo Edhie Wibowo Purworejo saat massa suporter mulai turun ke lapangan usai laga Persibas vs Persak, Rabu (4/2/2026).
Koran Pos: Laga Liga 4 Jateng antara Persibas vs Persak di Stadion Sarwo Edhie Wibowo berakhir ricuh. Massa jebol pagar, satu panitia terluka parah. Simak kronologinya.

PURWOREJO – Wajah sepak bola Jawa Tengah kembali tercoreng. Lanjutan kompetisi Liga 4 Jawa Tengah musim 2025–2026 yang mempertemukan Persibas Banyumas melawan Persak Kebumen di Stadion Sarwo Edhie Wibowo, Purworejo, pada Rabu (4/2/2026), berakhir dengan kericuhan parah.

Pertandingan yang sejatinya dimenangkan oleh Persak Kebumen dengan skor tipis 1-0 tersebut berubah menjadi medan bentrokan usai peluit panjang dibunyikan. Aksi saling ejek antar suporter yang memanas di akhir laga memicu hujan batu dan aksi massa yang turun ke lapangan.

Kronologi: Jebol Tembok hingga Massa Masuk Lapangan

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, ketegangan sebenarnya sudah diantisipasi oleh pihak keamanan. Panitia Pelaksana (Panpel) bersama aparat kepolisian telah menerapkan skema pencegahan dengan melarang suporter Persibas Banyumas masuk ke dalam stadion. Para pendukung Laskar Bawor tersebut sedianya diarahkan untuk menonton bareng di area Terminal Lama.

Namun, antusiasme yang tak terkendali membuat sejumlah oknum suporter nekat. Mereka berhasil merangsek masuk dengan cara melompati dinding stadion. Kehadiran kedua kubu di dalam satu area memicu gesekan psikologis yang kuat.

"Ketegangan sudah terasa sejak akhir babak kedua. Begitu peluit akhir bunyi, provokasi dan saling ejek tak terbendung lagi hingga massa turun ke lapangan," ungkap saksi mata di lokasi kejadian.

Satu Panitia Dilarikan ke RSUD, Pintu Stadion Rusak

Dampak dari kericuhan ini tidak main-main. Seorang anggota panitia pelaksana yang merupakan warga asli Purworejo menjadi korban keberutalan massa. Korban mengalami luka robek serius di bagian belakang kepala akibat terkena lemparan batu nyasar saat berusaha melerai situasi. Korban segera dievakuasi dan dilarikan ke RSUD Purworejo untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Tak hanya korban luka, fasilitas stadion kebanggaan warga Purworejo itu pun tak luput dari kerusakan. Pintu gerbang sebelah selatan dilaporkan mengalami kerusakan akibat dorongan massa. Kericuhan bahkan sempat meluas hingga ke area luar stadion, membuat suasana mencekam bagi warga sekitar.

Situasi Terkini

Aparat gabungan TNI-Polri bertindak sigap untuk memecah konsentrasi massa. Setelah beberapa saat situasi yang tidak kondusif, petugas berhasil memukul mundur kerumunan dan mengendalikan keadaan.

Pihak keamanan kemudian melakukan pengawalan ketat terhadap rombongan suporter untuk kembali ke daerah asal masing-masing guna mencegah bentrokan susulan di jalan raya. Hingga berita ini diturunkan, Komisi Disiplin (Komdis) Asprov PSSI Jateng belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait sanksi yang akan dijatuhkan kepada kedua tim akibat insiden ini.


Ringkasan Fakta Insiden

Detail KejadianKeterangan
LagaPersibas Banyumas vs Persak Kebumen (Liga 4 Jateng)
LokasiStadion Sarwo Edhie Wibowo, Purworejo
WaktuRabu, 4 Februari 2026
PenyebabProvokasi, Saling Ejek, & Suporter Lompat Pagar
Korban1 Panitia (Luka Robek Kepala) dirawat di RSUD Purworejo
KerusakanPintu Selatan Stadion
Evaluasi Keamanan Liga 4 Jateng

Kericuhan yang pecah di Stadion Sarwo Edhie Wibowo, Purworejo, usai laga Persibas Banyumas kontra Persak Kebumen, Rabu (4/2/2026), bukanlah sekadar catatan merah biasa dalam statistik pertandingan. Insiden ini adalah "alarm bahaya" yang nyaring bagi Asprov PSSI Jawa Tengah dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola di level akar rumput.

Jebolnya tembok stadion oleh oknum suporter hingga jatuhnya korban luka serius dari pihak panitia pelaksana (Panpel) menunjukkan ada celah menganga dalam prosedur standar operasi (SOP) keamanan Liga 4.

Amatir Statusnya, Profesional Pengamanannya

Kita sering terjebak dalam dikotomi yang menyesatkan: karena Liga 4 berstatus "amatir", maka standar keamanannya pun dianggap bisa "ala kadarnya". Ini adalah pola pikir yang fatal. Fanatisme kedaerahan di level kabupaten—seperti Derby Ngapak—seringkali memiliki sumbu yang jauh lebih pendek dibandingkan rivalitas di liga profesional.

Fakta bahwa suporter tamu yang sudah dilarang hadir masih bisa mendekat ke perimeter stadion, bahkan melompati dinding, menjadi bukti gagalnya sterilisasi area. Panpel dan aparat keamanan seolah gagap menghadapi massa yang nekat. Pertanyaannya, apakah stadion yang digunakan sudah benar-benar lolos verifikasi kelayakan untuk menggelar laga high-risk?

Infrastruktur vs Animo

Kejadian di Purworejo juga menampar wajah infrastruktur kita. Stadion di Liga 4 seringkali minim fasilitas keamanan standar seperti pagar pembatas yang tinggi atau jalur evakuasi yang steril. Ketika antusiasme suporter bertemu dengan fasilitas yang rapuh, bencana tinggal menunggu waktu.

"Sepak bola sejatinya adalah pesta rakyat, bukan arena pertempuran. Tidak ada kemenangan yang sebanding dengan tetesan darah, apalagi nyawa."

Sanksi Tegas dan Solusi Konkret

Komdis PSSI Jateng tidak boleh hanya menjatuhkan sanksi denda administratif yang klise. Harus ada hukuman yang memberikan efek jera, baik kepada klub maupun kelompok suporter. Namun, sanksi saja tidak cukup.

Kami mendesak adanya Audit Keamanan Total sebelum babak semifinal dan putaran nasional digelar. Jika sebuah stadion tidak mampu menjamin keamanan perangkat pertandingan dan penonton, jangan paksakan izin keramaian keluar. Lebih baik pertandingan digelar tanpa penonton di tempat netral yang layak, daripada kita harus menulis berita duka cita di kemudian hari.

Kejadian di Purworejo harus menjadi titik balik. Jangan menunggu ada nyawa yang melayang baru kita sibuk saling menyalahkan.

Lebih baru Lebih lama