Kemenkes Terbitkan "Status Waspada" DBD dan Leptospirosis: Varian Nyamuk Lebih Kebal, Warga Diminta Lakukan Ini

Penulis : Lucky
Editor : Redaksi Koran Pos Indonesia
Kemenkes Terbitkan
Kora Pos: Kemenkes RI mencatat lonjakan kasus DBD dan Leptospirosis di awal 2026 akibat curah hujan ekstrem. Waspadai gejala baru dan simak imbauan resmi disini

 JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia secara resmi mengeluarkan surat edaran kewaspadaan dini terkait lonjakan kasus penyakit tular vektor dan zoonosis di minggu ketiga Januari 2026. Dua penyakit utama yang menjadi sorotan adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Leptospirosis.


Juru Bicara Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi (dalam simulasi peran), dalam konferensi pers virtual hari ini, Selasa (20/1/2026), mengungkapkan bahwa tren kasus tahun ini menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan lima tahun terakhir.

Mutasi Nyamuk dan Cuaca Ekstrem

Data Kemenkes menunjukkan adanya peningkatan kasus DBD sebesar 30% di wilayah Jabodetabek, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

"Kami menemukan indikasi bahwa vektor nyamuk Aedes aegypti kini lebih resisten (kebal) terhadap insektisida fogging konvensional. Selain itu, pola gigitan nyamuk yang biasanya pagi dan sore, kini terdeteksi aktif juga di malam hari akibat perubahan suhu lingkungan yang semakin hangat," ujar dr. Siti.


Kombinasi antara curah hujan tinggi di awal tahun 2026 dan genangan air yang tidak tertangani menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi vektor penyakit.

Waspada "Silent Symptoms" Leptospirosis

Selain DBD, Kemenkes juga menyoroti ancaman Leptospirosis (penyakit kencing tikus). Penyakit ini kerap mengintai warga di daerah rawan banjir.

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) memperingatkan masyarakat tentang Silent Symptoms atau gejala samar Leptospirosis yang sering disalahartikan sebagai flu biasa.


Gejala yang harus diwaspadai meliputi:

1. Demam mendadak tinggi di atas 39 derajat Celcius.

2. Nyeri hebat pada otot betis (tanda khas).

3. Mata merah tanpa kotoran (belekan).

4. Kulit terlihat kekuningan pada tahap lanjut.


"Jika Anda baru saja beraktivitas membersihkan selokan atau rumah pasca banjir tanpa alas kaki, dan merasakan gejala nyeri betis hebat, segera ke Puskesmas. Jangan tunggu sampai gagal ginjal," tegas peringatan tersebut.

Imbauan Resmi: Protokol 3M Plus Modern

Untuk menanggulangi penyebaran, Kemenkes tidak lagi hanya mengimbau 3M Plus biasa, namun memperkenalkan pendekatan "Satu Rumah Satu Jumantik Digital".

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Rutin: Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang barang bekas minimal seminggu sekali.

Pemanfaatan Teknologi: Masyarakat diminta melaporkan titik genangan air atau tumpukan sampah liar melalui aplikasi kesehatan terintegrasi agar segera ditangani dinas terkait.

Vaksinasi Dengue: Kemenkes mendorong orang tua untuk melengkapi vaksinasi dengue bagi anak usia 6-16 tahun, yang kini sudah lebih mudah diakses di fasilitas kesehatan.

APD Saat Banjir: Wajib menggunakan sepatu bot karet dan sarung tangan saat membersihkan lingkungan yang becek atau berlumpur untuk mencegah bakteri Leptospira masuk melalui luka kulit.

Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Menteri Kesehatan memastikan bahwa stok cairan infus dan obat-obatan di RSUD seluruh provinsi dalam kondisi aman. Sistem rujukan juga telah disiagakan untuk mengantisipasi jika terjadi lonjakan pasien rawat inap.


"Kami meminta masyarakat tidak panik, namun kewaspadaan harus ditingkatkan dua kali lipat. Kebersihan lingkungan adalah vaksin terbaik saat ini," tutup pernyataan resmi Kemenkes.


Baca Juga:

Jadwal Vaksinasi DBD Gratis di Puskesmas Terdekat

5 Tanaman Pengusir Nyamuk Paling Ampuh untuk Ditanam di Rumah

Pertolongan Pertama Saat Anak Demam Tinggi di Malam Hari




Lebih baru Lebih lama