Distribusi Tak Tepat Waktu, Satpam dan Orang Tua SMPN 2 Sokaraja Tolak Mobil MBG

Distribusi Tak Tepat Waktu, Satpam dan Orang Tua SMPN 2 Sokaraja Tolak Mobil MBG

koranpos.my.id
Penulis: Lukman Yuli Prasetyo
Editor: Akim Amiruloh
Diterbitkan: 06 Maret 2026 , 19.02 WIB
Suasana boks mobil pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tertahan di depan gerbang SMPN 2 Sokaraja saat aksi penolakan oleh orang tua murid dan satpam.
Foto: Suasana boks mobil pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tertahan di depan gerbang SMPN 2 Sokaraja saat aksi penolakan oleh orang tua murid dan satpam. koranpos.my.id/dok istimewa
SOKARAJA – Suasana di depan SMP Negeri 2 Sokaraja pada Jumat siang (6/3/2026) berubah menjadi ricuh. Bukan karena tindak kriminal, melainkan aksi penolakan keras dari pihak keamanan sekolah (satpam) dan sejumlah orang tua wali murid terhadap mobil pengantar program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi ini merupakan puncaknya kekecewaan atas keterlambatan distribusi pangan yang dinilai sudah kronis.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa mobil boks pengangkut kotak makanan baru tiba di lokasi sekitar pukul 12.30 WIB. Padahal, jam operasional sekolah telah berakhir dan para siswa sudah diperbolehkan pulang oleh pihak guru setelah menunggu lama di dalam kelas.
Keterlambatan ini membuat jatah makanan yang datang kehilangan sasaran. Akibatnya, kedatangan mobil MBG tersebut hanya disambut oleh raut wajah kesal dari satpam dan segelintir wali murid yang masih tersisa di area sekolah.

Suara Kekecewaan Wali Murid dan Satpam
Sejumlah orang tua yang sedang menjemput anak-anak mereka tidak dapat membendung amarahnya. Mereka mengeluhkan manajemen waktu distribusi yang dianggap berantakan dan mengganggu jadwal harian keluarga.

"Bolak-balik telat. Kerjane mung nunggu MBG tok. Masa arep ming pasar, nunggu jatah mangan. Nek ora sanggup tepat waktu, bubar bae dapure," ujar salah satu orang tua murid dengan nada tinggi.

Nada serupa datang dari petugas keamanan sekolah. Ia mengaku kewalahan mengatur arus lalu lintas penjemputan yang menjadi semrawut akibat tertundanya pembagian makanan. "Anak wis pada bali, mobile mbene teka. Terus kiye arep dingeken maring sapa? Mubadzir jenenge," ketusnya.


Meskipun ditolak oleh pihak dewasa, potret berbeda terlihat dari sisi siswa. Beberapa murid yang masih bertahan di sekolah tampak tetap antusias menanti jatah makanan mereka. Namun, rasa senang itu berubah menjadi kekecewaan saat mereka diminta pulang sebelum makanan sempat dibagikan.

Di tengah polemik ini, beberapa wali murid justru menyuarakan kritik terhadap prioritas program pemerintah. Mereka menilai anggaran besar untuk MBG sebaiknya dialihkan ke program yang sudah ada.
"Lebih penting kesehatan gratis lewat BPJS diaktifkan kembali, sama pendidikan gratis itu. Jauh lebih baik daripada ribut-ribut soal MBG begini," usul seorang wali murid lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, petugas pengantar MBG hanya bisa pasrah karena distribusi tidak berjalan maksimal. Peristiwa di Sokaraja ini menjadi catatan merah bagi penyelenggara program, mengingat ketepatan waktu logistik adalah kunci utama keberhasilan program Makan Bergizi Gratis di lapangan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

News

Health