PURBALINGGA – Tradisi tahunan yang memberatkan masyarakat kembali terulang menjelang bulan suci Ramadan 1447 H. Di Pasar Badog, Kelurahan Bancar, Kabupaten Purbalingga, grafik harga sejumlah kebutuhan pokok dilaporkan mengalami lonjakan signifikan. Fenomena ini membuat para pembeli, khususnya kaum ibu rumah tangga, harus memutar otak lebih keras untuk mengatur uang belanja harian.
Pantauan di lokasi pada Selasa pagi (10/02/2026), aktivitas pasar yang terletak di tepian Sungai Klawing ini tampak padat. Namun, keramaian tersebut diiringi dengan keluhan yang nyaris seragam dari para pembeli maupun pedagang terkait lonjakan harga komoditas pangan.
Baca juga:
KPK Buka Suara Terkait Kasus PN Depok: Ibnu Basuki Widodo Sebut Perbuatan Oknum, Bukan InstitusiCabai dan Daging Ayam "Pedas" di Kantong
Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas bumbu dapur dan protein hewani. Harga cabai rawit merah yang sebelumnya stabil kini merangkak naik drastis, diikuti oleh bawang merah dan bawang putih. Tak ketinggalan, harga daging ayam potong dan telur ayam ras juga ikut melambung.
"Pusing rasanya, Mas. Baru mau masuk puasa harga sudah ganti semua. Biasanya bawa uang seratus ribu bisa dapat lengkap, sekarang cuma dapat sedikit. Cabai sama ayam naiknya bikin kaget," keluh Sri Wahyuni (45), salah satu warga Bancar yang ditemui di lokasi.
Baca juga:
Tragedi Kali Bodri: Dua Hari Hilang, Warga Cepiring Ditemukan Tak Bernyawa 10 KM dari Lokasi AwalDilema Pedagang Pasar Badog
Tidak hanya pembeli yang tercekik, para pedagang di Pasar Badog pun mengaku dilematis. Kenaikan harga dari tingkat distributor atau pengepul memaksa mereka menaikkan harga jual ke konsumen. Risikonya, omzet penjualan justru menurun karena pembeli mengurangi volume belanjaan mereka.
"Kami juga susah, Bu. Kalau tidak dinaikkan kami rugi, tapi kalau naik tinggi pembeli jadi sepi atau belinya dikurangi. Harapannya harga bisa stabil lagi biar sama-sama enak," ujar salah satu pedagang sayur di lapak bagian selatan pasar.
Harapan Operasi Pasar
Kenaikan harga menjelang momen besar keagamaan seperti Ramadan dan Idul Fitri seolah menjadi siklus yang sulit diputus. Warga berharap Pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui dinas terkait segera turun tangan. Operasi pasar atau pasar murah sangat dinantikan untuk menekan spekulan dan menstabilkan harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga selama bulan puasa.
Jika tren kenaikan ini terus berlanjut tanpa kendali, dikhawatirkan beban ekonomi masyarakat kecil di Purbalingga akan semakin berat di tengah kebutuhan Ramadan yang meningkat.