Mengungkap Penyebab Utama Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet: Faktor Alam atau Manusia?

Penulis : Lucky
Editor : Redaksi Koran Pos Indonesia
Mengungkap Penyebab Utama Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet: Faktor Alam atau Manusia?
Koran Pos: Mengungkap penyebab utama banjir bandang dan tanah longsor di lereng Gunung Slamet. Mulai dari alih fungsi lahan hingga intensitas hujan ekstrem di awal 2026.

PURWOKERTO – Wilayah lereng Gunung Slamet, yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, kini tengah berada dalam status waspada. Intensitas hujan yang tinggi di awal tahun 2026 telah memicu serangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor di beberapa titik kritis.

Berdasarkan analisis pakar lingkungan dan data dari BPBD setempat, terdapat beberapa faktor krusial yang menjadi penyebab utama bencana di atap Jawa Tengah ini.

1. Alih Fungsi Lahan yang Masif

Salah satu penyebab utama yang disoroti adalah masifnya alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan pertanian hortikultura dan obyek wisata. Kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air (buffer zone) kini banyak yang gundul. Tanpa akar pohon yang kuat untuk mengikat tanah, air hujan langsung mengalir ke permukaan (run-off) dan memicu longsor.

2. Intensitas Curah Hujan Ekstrem

Berdasarkan data BMKG, wilayah lereng Gunung Slamet mengalami peningkatan curah hujan hingga 150% di atas normal pada Januari-Februari 2026. Hujan dengan durasi lebih dari 5 jam menyebabkan tanah di kemiringan curam menjadi jenuh air, sehingga kehilangan stabilitasnya.

3. Pendangkalan Aliran Sungai (Sedimentasi)

Banjir bandang yang menerjang pemukiman di bawah lereng sering kali disebabkan oleh pendangkalan sungai. Material longsor dari hulu membawa lumpur, batu, dan ranting pohon yang menyumbat aliran air. Ketika "bendung alami" ini jebol, air dalam volume besar menghantam wilayah hilir.


Peringatan BMKG: "Masyarakat di radius 10-15 km dari puncak Gunung Slamet diimbau tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, terutama bagi warga yang tinggal di dekat bantaran sungai."


Wilayah Terdampak Paling Parah

Beberapa daerah tercatat mengalami kerugian material cukup besar akibat bencana ini:

Kabupaten Titik Lokasi Utama Jenis Bencana
Banyumas Baturraden & Kedungbanteng Longsor & Banjir Luapan
Purbalingga Karangreja & Serang Tanah Longsor
Tegal Bojong & Bumijawa Pergerakan Tanah

Solusi Jangka Panjang

Pemerintah daerah didesak untuk melakukan reboisasi skala besar dan memperketat izin pembangunan di wilayah lereng atas. Tanpa upaya konservasi yang serius, ancaman bencana tahunan ini diprediksi akan semakin parah.

Kabupaten Titik Lokasi Jenis Bencana
Banyumas Baturraden, Kedungbanteng Longsor & Banjir
Purbalingga Karangreja, Serang Tanah Longsor
Tegal Bojong, Bumijawa Pergerakan Tanah

Panduan Kesiapsiagaan: Apa yang Harus Dilakukan Warga di Lereng Gunung Slamet?

Mengingat kondisi geografis lereng Gunung Slamet yang memiliki kemiringan curam dan curah hujan tinggi, kesiapsiagaan mandiri adalah kunci keselamatan. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan oleh warga:

1. Kenali Tanda-Tanda Alam

Sebelum terjadi longsor atau banjir bandang, alam biasanya memberikan sinyal tertentu:

  • Munculnya Retakan: Periksa halaman atau dinding rumah, jika muncul retakan baru setelah hujan lebat, segera waspada.

  • Air Sumur Keruh: Perubahan warna air tanah secara mendadak bisa menjadi indikasi adanya pergeseran lapisan tanah.

  • Suara Gemuruh: Jika terdengar suara gemuruh dari arah perbukitan atau hulu sungai, segera menjauh dan cari tempat yang lebih tinggi.

  • Pohon/Tiang Miring: Perhatikan jika ada pohon, pagar, atau tiang listrik yang tiba-tiba miring.

2. Siapkan "Tas Siaga Bencana"

Pastikan setiap keluarga memiliki satu tas yang mudah dijangkau dan berisi kebutuhan darurat untuk 1-3 hari, meliputi:

  • Dokumen penting (ijazah, sertifikat, KK) dalam plastik kedap air.

  • Lampu senter dan baterai cadangan.

  • Obat-obatan pribadi dan kotak P3K.

  • Pakaian ganti, selimut, dan perlengkapan ibadah.

  • Makanan siap saji dan air minum botol.

3. Perkuat Komunikasi Komunitas

  • Pantau Grup WhatsApp Desa: Pastikan Anda terhubung dengan informasi resmi dari perangkat desa atau relawan BPBD.

  • Aktifkan Ronda Bencana: Saat hujan turun lebih dari 3 jam tanpa henti, lakukan pemantauan secara bergilir di titik-titik rawan longsor.

  • Pahami Jalur Evakuasi: Sepakati titik kumpul yang aman di wilayah masing-masing yang jauh dari bantaran sungai dan lereng curam.

📢 Tips Siaga Bencana

  • Waspada Hujan Lebat: Jika hujan deras berlangsung lebih dari 3 jam, tingkatkan kewaspadaan.
  • Cek Retakan Tanah: Segera lapor perangkat desa jika menemukan retakan tanah di sekitar pemukiman.
  • Jauhi Bantaran Sungai: Hindari aktivitas di dekat sungai saat cuaca mendung di puncak gunung.
  • Simpan Kontak Darurat: Catat nomor telepon BPBD, PMI, dan kepolisian setempat di ponsel Anda.
Lebih baru Lebih lama