Analisis Pasar: Daftar Saham Blue Chip yang Diprediksi Menghijau di Kuartal I 2026

Penulis : Lucky
Editor : Redaksi Koran Pos Indonesia
Analisis Pasar: Daftar Saham Blue Chip yang Diprediksi Menghijau di Kuartal I 2026
Koran Pos: Memasuki Q1 2026, sejumlah saham Blue Chip di IHSG diprediksi akan mengalami tren penguatan. Simak daftar saham unggulan Disini.

JAKARTA – Pasar modal Indonesia menunjukkan sinyal positif memasuki awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat, didorong oleh performa emiten berkapitalisasi besar atau saham Blue Chip (LQ45).


Para analis meyakini bahwa rilis laporan keuangan tahunan 2025 yang diproyeksikan tumbuh positif akan menjadi katalis utama pergerakan harga saham di Kuartal I (Q1) 2026. Selain itu, kebijakan suku bunga acuan yang diprediksi melandai memberikan angin segar bagi sektor keuangan dan konsumsi.

Sektor Perbankan Tetap Jadi Penopang Utama

Sektor perbankan diprediksi masih akan menjadi motor penggerak IHSG. Bank-bank besar dengan fundamental kuat tetap menjadi incaran investor asing (foreign inflow).

 • BBCA (PT Bank Central Asia Tbk): Dikenal memiliki CASA yang kuat dan efisiensi operasional tinggi.

 • BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk): Fokus pada kredit mikro dan prospek dividen tinggi menjadikannya primadona investor jangka panjang.

 • BMRI (PT Bank Mandiri Tbk): Pertumbuhan kredit korporasi yang agresif diprediksi akan mendongkrak laba bersih di awal tahun.


Sektor Konsumsi dan Telekomunikasi Menunjukkan Resiliensi

Seiring dengan terjaganya daya beli masyarakat, saham di sektor konsumsi primer dan telekomunikasi diprediksi akan ikut terkerek naik.


 • ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): Kekuatan brand dan ekspansi global membuat emiten ini tetap defensif sekaligus prospektif.

 • TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk): Transformasi digital dan fokus pada bisnis data serta Data Center memberikan nilai tambah bagi investor di tengah era 5G yang kian matang.

"Awal tahun adalah momen rebalancing portofolio bagi manajer investasi. Saham-saham dengan fundamental oke dan historis dividen yang stabil seperti saham Blue Chip akan selalu menjadi pilihan aman di tengah volatilitas global," ungkap analis pasar modal, Irwan Susanto, Jumat (23/1).

Sentimen Global yang Perlu Diwaspadai

Meskipun prospek domestik cerah, investor diingatkan untuk tetap memperhatikan isu geopolitik dan harga komoditas global. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) masih sangat disarankan bagi investor ritel untuk meminimalisir risiko fluktuasi harga harian.

Kode Estimasi Harga P/E Ratio (x) PBV (x) Yield (%) Rekomendasi
BBCA Rp11.200 22,5 4,8 2,1% NEUTRAL
BBRI Rp5.800 14,2 2,6 5,5% BUY
BMRI Rp7.400 11,8 2,2 4,8% STRONG BUY
TLKM Rp4.100 15,5 2,8 4,2% ACCUMULATE
ASII Rp5.400 8,5 1,1 6,8% BUY

*Data di atas merupakan proyeksi analisis internal per Januari 2026. Investasi saham mengandung risiko, keputusan jual-beli ada di tangan investor.


Cara Membaca Tabel di Atas:

P/E Ratio (Price to Earning Ratio): Mengukur harga saham dibandingkan laba bersih. Semakin rendah angkanya (dibawah rata-rata industri), biasanya dianggap semakin murah. Sektor perbankan seperti BMRI tampak menarik secara P/E.


PBV (Price to Book Value): Mengukur harga saham terhadap nilai aset bersih perusahaan. Saham seperti ASII dengan PBV mendekati 1,0 menunjukkan harga yang sangat dekat dengan nilai aset aslinya.


Dividend Yield: Estimasi keuntungan dari dividen. Jika Anda mencari pendapatan pasif, BBRI dan ASII menjadi pilihan unggulan karena persentase yang tinggi.


Catatan Penting untuk Investor:

Valuasi rendah (murah) tidak selalu berarti saham tersebut pasti naik. Investor perlu memperhatikan sentimen global, arus kas masuk investor asing (Foreign Flow), serta stabilitas ekonomi nasional di tahun 2026 ini.

Lebih baru Lebih lama