"Bukan Orang Banyumas, Saya Orang Purwokerto": Antara Identitas Urban dan Tudingan Kesombongan Lokal

"Bukan Orang Banyumas, Saya Orang Purwokerto": Antara Identitas Urban dan Tudingan Kesombongan Lokal

koranpos.my.id
Penulis: Lukman Yuli Prasetyo
Editor: Akim Amiruloh
Diterbitkan: 18 Februari 2026 , 01.18 WIB
Suasana hiruk pikuk di kawasan perempatan Rita Super Mall Purbalingga atau Alun-alun Purwokerto yang merefleksikan gaya hidup urban masyarakat setempat.
Foto: Suasana hiruk pikuk di kawasan perempatan Rita Super Mall Purbalingga atau Alun-alun Purwokerto yang merefleksikan gaya hidup urban masyarakat setempat. (koranpos.my.id/dok f.4 pinterest)
PURWOKERTO – Sebuah sentimen menarik sering muncul dalam percakapan sehari-hari di wilayah Jawa Tengah bagian barat daya: tudingan bahwa warga Purwokerto adalah kelompok paling sombong se-Kabupaten Banyumas. Anggapan ini mencuat bukan tanpa alasan. Banyak warga yang lahir dan besar di wilayah perkotaan ini seolah enggan menyematkan identitas "Banyumas" dan lebih bangga melabeli diri sebagai "Orang Purwokerto".

Apakah ini tanda lunturnya rasa bangga terhadap daerah asal, atau sekadar pergeseran identitas urban yang tidak dipahami oleh masyarakat luas?
Krisis Identitas atau Sekadar Ego Urban?
Purwokerto, secara administratif memang merupakan ibu kota dari Kabupaten Banyumas. Namun, secara sosiologis, kota ini telah bertransformasi menjadi pusat gravitasi ekonomi, pendidikan, dan gaya hidup. Hal inilah yang sering kali menciptakan sekat imajiner antara warga pusat kota dengan wilayah kecamatan lainnya di Banyumas.

Tudingan "sombong" muncul ketika warga Purwokerto merasa memiliki standar gaya hidup yang lebih modern. Dari mal yang megah hingga keberadaan universitas ternama, faktor-faktor ini secara tidak sadar membentuk mentalitas "anak kota" yang merasa berbeda dari kerabat mereka di wilayah perdesaan Banyumas.
Alasan di Balik Nama "Purwokerto"
Mengapa mereka lebih suka mengaku dari Purwokerto ketimbang Banyumas? Ada beberapa analisis menarik:

Kemudahan Navigasi: Bagi orang luar daerah, nama Purwokerto jauh lebih familiar sebagai titik referensi geografi dibandingkan nama Kabupaten Banyumas.

Branding Pendidikan: Purwokerto sudah terlanjur melekat dengan branding sebagai "Kota Pelajar" di jalur selatan Jawa.

Gengsi Sosial: Ada semacam kebanggaan tersendiri saat menyebutkan asal dari sebuah pusat kota yang sedang berkembang pesat.

Ngapak Tetap Menyatukan
Meski sering dituding sombong karena masalah penyebutan daerah, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah penggunaan bahasa. Sehebat apa pun warga Purwokerto mencoba tampil urban, dialek Ngapak tetap menjadi identitas pemersatu yang tak bisa lepas.
Secara kultural, mereka tetaplah bagian dari entitas Banyumasan yang mencintai mendoan dan soto sokaraja. Perdebatan mengenai "Purwokerto vs Banyumas" sebenarnya lebih kepada dinamika antara masyarakat pusat kota dan daerah penyangga, sebuah fenomena yang lazim terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Pada akhirnya, mengaku sebagai orang Purwokerto bukanlah bentuk penghinaan terhadap Banyumas. Ini hanyalah cara masyarakat setempat mendefinisikan diri mereka di tengah pesatnya modernisasi, tanpa benar-benar berniat meninggalkan akar budaya luhur yang telah membesarkan mereka.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

News

Health